Pendidikan yang baru dan termasuk
paling penting pada masa sekarang ialah pendidikan lingkungan. Pendidikan
tersebut berkaitan dengan pengetahuan lingkungan di sekitar manusia dan menjaga
berbagai unsurnya yang dapat mendatangkan ancaman kehancuran, pencemaran, atau
perusakan.
Pendidikan lingkungan telah diajarkan oleh Rasulullah SAW kepada para
sahabatnya. Abu Darda’ ra. pernah menjelaskan bahwa di tempat belajar yang
diasuh oleh Rasulullah SAW telah diajarkan tentang pentingnya bercocok tanam
dan menanam pepohonan serta pentingnya usaha mengubah tanah yang tandus menjadi
kebun yang subur. Perbuatan tersebut akan mendatangkan pahala yang besar di
sisi Allah SWT dan bekerja untuk memakmurkan bumi adalah termasuk ibadah kepada
Allah SWT.
Pendidikan lingkungan yang diajarkan oleh Rasulullah SAW berdasarkan wahyu,
sehingga banyak kita jumpai ayat-ayat ilmiah Al-Qur’an dan As Sunnah yang
membahas tentang lingkungan. Pesan-pesan Al-Qur’an mengenai lingkungan sangat
jelas dan prospektif. Ada beberapa tentang lingkungan dalam Al-Qur’an, antara
lain : lingkungan sebagai suatu sistem, tanggung jawab manusia untuk memelihara
lingkungan hidup, larangan merusak lingkungan, sumber daya vital dan
problematikanya, peringatan mengenai kerusakan lingkungan hidup yang terjadi
karena ulah tangan manusia dan pengelolaan yang mengabaikan petunjuk Allah
serta solusi pengelolaan lingkungan
Adapun As-Sunnah lebih banyak menjelaskan lingkungan hidup secara rinci dan
detail. Karena Al-Qur’an hanya meletakkan dasar dan prinsipnya secara global,
sedangkan As-Sunnah berfungsi menerangkan dan menjelaskannya dalam bentuk
hukum-hukum, pengarahan pada hal-hal tertentu dan berbagai penjelasan yang
lebih rinci.
1. Lingkungan Sebagai Suatu Sistem
Suatu sistem terdiri atas komponen-komponen yang bekerja secara teratur sebagai
suatu kesatuan. Atau seperangkat unsur yang secara teratur saling berkaitan
sehingga membentuk suatu totalitas. Lingkungan terdiri atas unsur biotik (manusia, hewan, dan tumbuhan) dan abiotik
(udara, air, tanah, iklim dan lainnya). Allah SWT berfirman :
"Dan Kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung
dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran. Dan Kami telah
menjadikan untukmu di bumi keperluan-keperluan hidup, dan (Kami menciptakannya
pula) makhluk-makhluk yang kamu sekali-kali bukan pemberi rezeki
kepadanya." (QS. 15 : 19-20)
Hal ini senada dengan pengertian lingkungan hidup, yaitu sistem yang merupakan
kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup termasuk
manusia dan perilakunya yang menentukan perikehidupan serta kesejahteraan
manusia dan makhluk hidup lainnya.
Atau bisa juga dikatakan sebagai suatu sistem kehidupan dimana terdapat campur
tangan manusia terhadap tatanan ekosistem.
2.Pembangunan Lingkungan Hidup
Lingkungan hidup sebagai sumber daya yang dapat dimanfaatkan manusia guna
memenuhi kebutuhan hidupnya. Allah SWT berfirman :
"Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala
penjurunya, dan makanlah sebagian dari rizki-Nya. Dan hanya kepada-Nya lah kamu
(kembali setelah) dibangkitkan." (QS. 67 : 15)
Akan tetapi, lingkungan hidup sebagai sumber daya mempunyai regenerasi dan
asimilasi yang terbatas. Selama eksploitasi atau penggunaannya di bawah batas
daya regenerasi atau asimilasi, maka sumber daya terbaharui dapat digunakan
secara lestari. Akan tetapi apabila batas itu dilampaui, sumber daya akan
mengalami kerusakan dan fungsinya sebagai faktor produksi dan konsumsi atau sarana
pelayanan akan mengalami gangguan.
Oleh karena itu, pembangunan lingkungan hidup pada hakekatnya untuk pengubahan
lingkungan hidup, yakni mengurangi resiko lingkungan dan atau memperbesar
manfaat lingkungan. Sehingga manusia mempunyai tanggung jawab untuk memelihara
dan memakmurkan alam sekitarnya. Allah SWT berfirman :
"Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Shaleh. Shaleh berkata :
"Hai kaumku, sembalah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain
Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu
pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya.
Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) dan lagi memperkenankan (do’a
hamba-Nya)." (QS. 11 : 61)
Upaya memelihara dan memakmurkan tersebut bertujuan untuk melestarikan daya
dukung lingkungan yang dapat menopang secara berkelanjutan pertumbuhan dan
perkembangan yang kita usahakan dalam pembangunan. Walaupun lingkungan berubah,
kita usahakan agar tetap pada kondisi yang mampu untuk menopang secara
terus-menerus pertumbuhan dan perkembangan, sehingga kelangsungan hidup kita
dan anak cucu kita dapat terjamin pada tingkat mutu hidup yang makin baik.
Konsep pembangunan ini lebih terkenal dengan pembangunan lingkungan
berkelanjutan.
Tujuan tersebut dapat dicapai apabila manusia tidak membuat kerusakan di bumi,
sebagaimana firman Allah SWT :
"Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah)
memperbaikinya dan berdo’alah kepada-Nya dengan rasa takut dan harapan.
Sesungguhnya Allah amat dekat kepada orang yang berbuat baik." (QS. 7 :
56)
Berkaitan dengan pemeliharaan lingkungan, Rasulullah SAW mengajarkan kepada
kita tentang beberapa hal, diantaranya agar melakukan penghijauan, melestarikan
kekayaan hewani dan hayati, dan lain sebagainya.
"Barangsiapa yang memotong pohon Sidrah maka Allah akan meluruskan
kepalanya tepat ke dalam neraka." (HR. Abu Daud dalam Sunannya)
"Barangsiapa di anatara orang Islam yang menanam tanaman maka hasil
tanamannya yang dimakan akan menjadi sedekahnya, dan hasil tanaman yang dicuri
akan menjadi sedekah. Dan barangsiapa yang merusak tanamannya, maka akan
menjadi sedekahnya sampai hari Kiamat." (HR. Muslim)
"Setiap orang yang membunuh burung pipit atau binatang yang
lebih besar dari burung pipit tanpa ada kepentingan yang jelas, dia akan
dimintai pertanggungjawabannya oleh Allah." Ditanyakan kepada Nabi :
"Wahai Rasulullah, apa kepentingan itu ?" Rasulullah menjawab :
"Apabila burung itu disembelih untuk dimakan, dan tidak memotong kepalanya
kemudian dilempar begitu saja."[7]
3. Sumber Daya Vital dan Problematikanya
Manusia telah sedikit banyak berhasil mengatur kehidupannya sendiri (birth
control maupun death control) dan sekarang dituntut untuk
mengupayakan berlangsungnya proses pengaturan yang normal dari alam dan
lingkungan agar selalu dalam keseimbangan. Khususnya yang menyangkut lahan
(tanah), air dan udara, karena ketiga unsur tersebut merupakan sumber daya yang
sangat penting bagi manusia.
Sumber Daya Lahan atau Tanah
Manusia berasal dari tanah dan hidup dari dan di atas tanah. Hubungan antara
manusia dan tanah sangat erat. Kelangsungan hidup manusia diantaranya
tergantung dari tanah dan sebaliknya, tanahpun memerlukan perlindungan manusia
untuk eksistensinya sebagai tanah yang memiliki fungsi.
Allah SWT berfirman :
"Dan apakah mereka tidak memperhatikan bumi, berapakah banyaknya Kami
tumbuhkan di bumi itu pelbagai macam tumbuhan-tumbuhan yang baik? Sesungguhnya
pada yang demikian itu benar-benar terdapat suatu tanda kekuasaan Allah. Dan
kebanyakan mereka tidak Beriman." (QS. 26 : 7-8)
Dengan lahan itu manusia bisa membuat tempat tinggal, bercocok tanam, dan
melakukan aktivitas lainnya.
Namun, pemandangan ironis di Indonesia terlihat cukup mencolok diantaranya
penebangan hutan untuk ekspor (tanpa diikuti upaya peremajaan yang memadai) dan
perluasan kota yang melebar, mencaplok tanah-tanah subur pedesaan. Polis berkembang
menjadi metropolis untuk kemudian membengkak menjadi megapolis (beberapa
kota besar luluh jadi satu) dan Ecumenopolis (negara kota). Akhirnya
salah satu nanti akan menjadi Necropolis (kota mayat).
Penebangan hutan tanpa diikuti peremajaan kembali menyebabkan rusaknya tanah
perbukitan sehingga terjadi bencana tanah longsor. Apalagi adanya kebakaran
hutan di Indonesia semakin menyebabkan rusaknya ekologi hutan. Padahal
keberadaan hutan sangat berguna bagi keseimbangan hidrologik dan klimatologik,
termasuk sebagai tempat berlindungannya binatang.
Adanya pembangunan tata ruang yang kurang baik, seperti pembangunan kota dan
perumahan, menyebabkan semakin sempitnya lahan pertanian yang subur. Selain
itu, juga terjadi kerusakan tingkat kesuburan tanah yang disebabkan pemakaian
teknologi kimiawi yang over dosis. Dan bahkan pemakaian pupuk kimiawi
tersebut merusak ekosistem pertanian, diantaranya semakin resistensi dan
resurjensinya hama dan penyakit tanaman. Sehingga hasil produksi pertanian pun
menurun yang akhirnya berdampak pada kehidupan sosial-ekonomi penduduk.
Melihat kenyataan tersebut, mestinya perkara konservasi tanah dan lahan sudah
merupakan suatu keharusan, condition sine qua non, demi berlangsungnya
kehidupan manusia. Usaha yang dapat dilakukan antara lain reboisasi, perencanaan
tata ruang yang baik (lahan subur untuk pertanian dan lahan tandus untuk
industri atau bangunan), dan penerapan sistem pertanian yang ramah lingkungan
(pertanian organik atau lestari).
Sumber Daya Air
Selain lahan atau tanah, yang tak kalah pentingnya adalah air. "Everything
originated in the water. Everything is sustained by water". Manusia
membutuhkan air untuk hidupnya, karena dua pertiga tubuh manusia terdiri dari
air. Allah SWT berfirman : "Dan Kami beri minum kamu dengan air tawar
?" (QS. 77 : 27). Dan bahkan tanpa air seluruh gerak kehidupan akan
terhenti.
Yang ironis adalah bahwa kekeringan datang silih berganti dengan banjir. Pada
suatu saat kita kekurangan air, tapi pada saat yang lain justru kelebihan air.
Mestinya manusia bisa mengatur sedemikian hingga sepanjang waktu bisa cukupan
air (tidak kurang dan tidak lebih). Hal itu sebenarnya telah ditunjukkan oleh
alam dalam bentuk siklus hidrologis dari air yang berlangsung terus menerus,
volume air yang dikandungnya tetap, hanya bentuknya yang berubah. Allah SWT
berfirman : "Demi langit yang mengandung hujan (raj’i)" (QS. 86 :
11). Kata Raj’i berarti "kembali". Hujan dinamakan raj’i
dalam ayat ini, karena hujan itu berasal dari uap air yang naik dari bumi
(baik dari air laut, danau, sungai dan lainnya) ke udara, kemudian turun ke
bumi sebagai hujan, kemudian kembali ke atas, dan dari atas kembali ke bumi dan
begitulah seterusnya. Atau terkenal dengan siklus hidrologik.
Kisah perjalanan air yang urut dan runtut itu telah memberikan kontribusi yang
sangat vital pada daur kehidupan dan pembaharuan sumber daya alam. Namun
manusia melakukan sesuatu yang menyebabkan terhambatnya siklus hidrologi
tersebut. Manusia membuat saluran drainase dengan lapisan semen yang kedap air
dan mengecor jalan dengan semen, sehingga air mengalir cepat ke laut dan
mengingkari fungsinya sebagai pemberi kehidupan (life giving role). Dan
menipislah persediaan air tanah.
Sungai-sungai yang dulu sebagai organisme yang mampu memamah biak benda-benda
yang dibuang kedalamnya dan memberikan pasokan air bersih yang memadai untuk
kehidupan. Sekarang sungai-sungai tersebut lebih berwujud berupa tempat
pembuangan sampah yang terbuka, dijejali dengan limbah industri dan buangan
rumah tangga yang tidak mungkin lagi atau tidak mudah dicerna guna menghasilkan
air yang sedikit bersih sekalipun.
Kerusakan lingkungan pada ekosistem pantai yakni rusaknya hutan bakau (mangrove)
di tepi pantai, seperti di Cilacap, dan rusaknya terumbu karang. Padahal hutan
bakau dan terumbu karang sangat berfungsi bagi keseimbangan dan keberlangsungan
ekosistem pesisir dan lautan, rantai makanan, melindungi abrasi laut dan
keberlanjutan sumber daya lautan.
Sumber Daya Udara
Selain kedua sumber daya tersebut di atas, ciptaan Allah SWT yang tidak kalah
penting tetapi sering terlupakan atau disepelekan adalah udara. Padahal tanpa
udara takkan pernah ada kehidupan. Tanpa udara bersih takkan diperoleh
kehidupan sehat. Setiap hari rata-rata manusia menarik napas 26.000 kali
berkisar antara 18 sampai 22 kali setiap menitnya.
Pentingnya udara sering diabaikan terutama karena sampai kini kita masih bisa
memperolehnya tanpa harus mengeluarkan biaya. Padahal di Tokyo saat ini mulai
dijual udara bersih (oksigen) dalam tabung. Suatu kejutan pertama yang
menyadarkan manusia akan bahaya udara kotor terjadi di Inggris pada tahun 1952
yang dikenal dengan "The Great London Smog" yang menyebabkan
sekitar 4000 jiwa melayang dan sejumlah besar penduduk menderita penyakit
bronkitis, jantung dan berbagai penyakit pernapasan lainnya. Bahkan bangunan,
lukisan, patung atau monumenpun hancur, karena asap dan gas mobil.
Polusi udara juga terjadi di Yogyakarta akibat konsumsi bahan bakar yang terus
meningkat. Konsumsi tertinggi dari kendaraan bermotor (konsumsi bahan bakar
solar dan bensin mencapai 170.000 liter pada tahun 1990-1991) dan kedua bahan
bakar rumah tangga (rata-rata 84.000 liter). Hal itu menyebabkan CO2
dan timbal (Pb) melewati ambang batas yang diperkenankan. Ambang batas timbal
(Pb) yang diperkenankan hanya 0,03 ug/l, kini rata-rata diatas 0,09 ug/l di
beberapa tempat, seperti Kantor Pos Besar, Bunderan, Jl. Jend. Sudirman, dan
Gedungkuning.
Begitu juga di Jakarta, dari kendaraan umum, 765.000 atau 60 % mengeluarkan gas
buang diatas ambang batas baku mutu. Artinya setiap menit selalu keluar
kandungan racun dari knalpot mobil itu, sulfur oksida, nitrogen oksida, dan
timbal (Pb). Konsentrasi timbal di udara mencapai 1,7-3,5 mirogram per
meterkubik dan pada 2005 mencapai 1,8-3,6 mikrogram per meterkubik. Padahal
jumlah kendaraan roda empat di Jakarta mencapai 9,1 juta (1.274.000 berstatus
kendaraan umum).
Upaya yang bisa di tempuh antara lain : memperluas kawasan hijau (hutan kota),
pemakaian bahan bakar akrab lingkungan (BBL), knalpot dipasang filter, dan
mengurangi pemakaian kendaraan pribadi.
4. Kerusakan Lingkungan
Manusia telah diperingatkan Allah SWT dan Rasul-Nya agar jangan melakukan
kerusakan di bumi, akan tetapi manusia mengingkarinya. Allah SWT berfirman :
"Dan bila dikatakan kepada mereka: "Janganlah membuat kerusakan di
muka bumi", mereka menjawab: "Sesungguhnya kami orang-orang yang
mengadakan perbaikan." (QS. 2 : 11). Keingkaran mereka disebabkan karena
keserakahan mereka dan mereka mengingkari petunjuk Allah SWT dalam mengelola
bumi ini. Sehingga terjadilah bencana alam dan kerusakan di bumi karena ulah
tangan manusia. Allah SWT berfirman :
"Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan
tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat)
perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)". Katakanlah :
"Adakan perjalanan di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan
orang-orang dahulu. Kebanyakan dari mereka itu adalah orang-orang yang mempersekutukan
(Allah)." (QS. 30 : 41-42).
Di samping adanya problematika ketiga sumber daya vital di atas, Otto
Soemarwoto membagi kerusakan lingkungan yang mengancam kehidupan bumi menjadi
dua, yaitu kerusakan yang bersifat regional (seperti hujan asam) dan yang
bersifat global (seperti pemanasan global, kepunahan jenis, dan kerusakan
lapisan ozon di stratosfer).
Hujan asam disebabkan oleh pencemaran udara yang berasal dari pembakaran bahan
bakar fosil, yaitu gas bumi, minyak bumi dan batu bara. Pembakaran itu
menghasilkan gas oksida belerang dan oksida nitrogen. Kedua jenis
itu dalam udara mengalami reaksi kimia dan berubah menjadi asam (berturut-turut
menjadi asam sulfat dan asam nitrat). Asam yang langsung mengenai
bumi disebut deposisi kering dan asam yang terbawa hujan yang turun ke
bumi disebut desposisi basah. Keduanya disebut hujan asam. Hujan asam
menyebabkan kematian organisme air sungai dan danau serta kerusakan hutan dan
bangunan.
Pemanasan global (global warning) adalah peristiwa naiknya intensitas
efek rumah kaca (ERK) yang terjadi karena adanya gas dalam atmosfer yang
menyerap sinar panas (sinar inframerah) yang dipancarkan bumi. Gas itu disebut
gas rumah kaca (GRK). Dengan penyerapan itu sinar panas terperangkap sehingga
naiklah suhu permukaan bumi.
Seandainya tidak ada GRK dan karena itu tidak ada ERK, suhu permukaan bumi
rata-rata hanya -18oC saja, terlalu dingin bagi kehidupan makhluk.
Dengan adanya ERK suhu bumi adalah rata-rata 15oC, sehingga ERK
sangat berguna bagi kehidupan di bumi. Akan tetapi, akhir-akhir ini semakin
naiknya kadar GRK dalam atmosfer, yaitu CO2 dan beberapa gas lain
(seperti CO2, CH4, dan N2O) menyebabkan
naiknya intensitas ERK, sehingga suhu permukaan bumi akan naik pula. Inilah
yang disebut global warning.
Berbagai dampak negatif pemanasan global, yaitu menyebabkan perubahan iklim
sedunia (perubahan curah hujan), naiknya frekuensi maupun intensitas badai
(seperti di Banglades dan Filipina semakin menderita), dan bertambahnya volume
air laut dan melelehnya es abadi di pegunungan dan kutub. Hal itu juga
menyebabkan keringnya tanah dan kekeringan yang berdampak negatif terhadap
pertanian dan perikanan.
Bertambahnya volume air laut, maka permukaan laut akan naik. Dengan laju
kenaikan kadar GRK seperti sekarang diperkirakan pada sekitar 2030 suhu akan
naik 1,5-4,5oC. Kenaikan suhu ini menyebabkan naiknya permukaan laut
25-140 cm. Dampak naiknya permukaan laut yakni tergenangnya daerah pantai,
tambak, sawah dan kota yang rendah seperti Jakarta, Surabaya, dan Semarang
serta beberapa pulau di Indonesia. Kenaikan permukaan laut juga menyebabkan
laju erosi pantai. Untuk kenaikan permukaan laut 1 cm, garis pantai akan mundur
1m, sehingga kenaikan permukaan laut 25-140 cm, garis pantai mundur 25-140 m.
Kepunahan jenis berarti hilangnya sumber daya gen yang mengurangi kemampuan
kita dalam pembangunan pertanian, perikanan, peternakan, dan kehutanan.
Penyebabnya antara lain karena adanya hujan asam dan penyusutan luas hutan,
serta penggunaan sistem monokultur atau varietas unggul sehingga varietas lokal
hilang, seperti varietas padi lokal yang hampir sirna.
Ozon ialah senyawa kimia yang terdiri atas tiga atom oksigen. Di lapisan
atmosfer yang rendah ia mengganggu kesehatan dan di lapisan atas atmosfer ia
melindungi makhluk hidup dari sinar ultraviolet yang dipancarkan matahari.
Apabila kadar ozon di stratosfer berkurang, kadar sinar ultraviolet yang sampai
ke bumi bertambah. Maka resiko untuk mengidap penyakit kanker kulit, katarak
dan menurunnya kekebalan tubuh akan meningkat. Penurunan kadar ozon disebabkan
karena rusaknya ozon oleh segolongan zat kimia yang disebut clorofuorokarbon
yang banyak digunakan dalam industri dan kehidupan kita, seperti gas
freon (pendingin AC dan almari es), gas pendorong dalam aerosal (parfum,
hairspray, dan zat racun hama) dan lainnya.
Bila kita tetap saja berkeras kepala menjejalkan gas rumah kaca ke atmosfer,
sebelum akhir abad mendatang pasti akan terjadi perubahan iklim yang tak
terduga, banyak angin ribut dan angin topan, air laut meredam pulau-pulau
berdataran rendah, disamping munculnya padang pasir baru karena bumi yang makin
panas.
Upaya nyata yang perlu dilakukan untuk menghindari bencana itu antara lain
dengan menggunakan energi secara efisien, mengembangkan sumber energi baru dan
aman, mencegah terjadinya kebakaran dan penggundulan hutan atau penebangan
pohon secara besar-besaran, menanam pepohonan baru, menggalakan penggunaan
transportasi umum. Atau kampanye besar-besaran untuk mengurangi penggunaan
traktor, diesel, lemari es, kaleng semprot, AC dan lain-lain. Langkah ini mudah
diucapkan tapi sulit dilaksanakan. Namun hal itu tetap harus dilakukan, seperti
yang dicetuskan oleh Gurmit Singh : "Global warning on global warming
demands global action". Peringatan global terhadap pemanasan global menuntut
adanya tindakan global.
5. Solusi Pengelolaan Lingkungan
Proses kerusakan lingkungan berjalan secara progresif dan membuat lingkungan
tidak nyaman bagi manusia, bahkan jika terus berjalan akan dapat membuatnya
tidak sesuai lagi untuk kehidupan kita. Itu semua karena ulah tangan manusia
sendiri, sehingga bencananya juga akan menimpa manusia itu sendiri QS. 30 :
41-42.
Untuk mengatasi masalah tersebut, pendekatan yang dapat kita lakukan
diantaranya dengan pengembangan Sumber Daya Manusia yang handal,
pembangunan lingkungan berkelanjutan, dan kembali kepada petunjuk Allah SWT dan
Rasul-Nya dalam pengelolaan lingkungan hidup. Adapun syarat SDM handal antara
lain SDM sadar akan lingkungan dan berpandangan holistis, sadar hukum, dan
mempunyai komitmen terhadap lingkungan.
Kita diajarkan untuk hidup serasi dengan alam sekitar kita, dengan sesama
manusia dan dengan Allah SWT. Allah berfirman : "Dan tiadalah Kami
mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmatan lil’alamiin" (QS. 21 :
107). Pandangan hidup ini mencerminkan pandangan yang holistis terhadap
kehidupan kita, yaitu bahwa manusia adalah bagian dari lingkungan tempat
hidupnya. Dalam pandangan ini sistem sosial manusia bersama dengan sistem biogeofisik
membentuk satu kesatuan yang disebut ekosistem sosiobiogeofisik,
sehingga manusia merupakan bagian dari ekosistem tempat hidupnya dan bukannya
hidup diluarnya. Oleh karenanya, keselamatan dan kesejahteraan manusia
tergantung dari keutuhan ekosistem tempat hidupnya. Jika terjadi kerusakan pada
ekosistemnya, manusia akan menderita. Karena itu walaupun biogeofisik merupakan
sumberdaya bagi manusia, namun pemanfaatannya untuk kebutuhan hidupnya
dilakukan dengan hati-hati agar tidak terjadi kerusakan pada ekosistem. Dengan
begitu manusia akan sadar terhadap hukum yang mengatur lingkungan hidup dari
Allah SWT dan komitmen terhadap masalah-masalah lingkungan hidup.
Pandangan holistik juga berarti bahwa semua permasalahan kerusakan dan
pengelolaan lingkungan hidup harus menjadi tanggung jawab oleh semua pihak
(pemerintah, LSM, masyarakat, maupun orang perorang) dan semua wilayah (baik
lokal, regional, nasional, maupun internasional). Atau dalam konsep Partai
Keadilan, lingkungan hidup harus dikelola secara integral, global dan universal
menuju prosperity dan sustainability.
Kesimpulan, bahwa ini adalah alasan yang mungkin mengapa Allah
menyebutkan secara eksplisit dalam Al-Qur’an tentang petingnya lingkungan hidup
dan cara-cara Islami dalam mengelola dunia ini. Kualitas lingkungan hidup
sebagai indikator pembangunan dan ajaran Islam sebagai teknologi untuk
mengelola dunia jelas merupakan pesan strategis dari Allah SWT untuk diwujudkan
dengan sungguh-sungguh oleh setiap muslim.